Jumat, 01 November 2024

Miqdad Bimasena Rizaldi, Dua Tahun Pertama

Miqdad Bimasena Rizaldi
seorang panglima yang gagah berani dan terberkati
begitulah Papamu memberikan nama bagimu
bayiku yang lincah dengan senyum yang selalu merekah

Miqdad anakku..
kekuatanmu terletak pada hatimu yang tangguh
kepandaianmu terasah dari kemauanmu yang teguh
keindahan senyumanmu terpancar dari kebahagiaan jiwamu yang penuh

Melindungimu selama sembilan bulan di rahimku,
membuatku tersadar bahwa sebagian hidupku bukanlah milikku
Melahirkanmu dalam keterbatasan,
membuatku belajar bahwa selalu ada tangan yang siap menopang
melangitkan doa-doa
melimpahkan cinta
memahat asa

Dalam dua tahun yang berwarna ini
kami terus mengasah ketajaman intuisi
menggeluti ilmu kepekaan hati
mendalami dunia kesabaran dan kerelaan

Tak mudah memang perjalanan kita
tapi yakinlah, Nak...
Kelak akan mereka saksikan bersama
seorang putra bangsa yang berwibawa
memimpin dunia dengan kearifannya
dengan ketulusan dan kecerdasannya
berdiri kokoh menggambarkan kekuatan Sang Bimasena


Hari ini, Senin, 7 Maret 2016, akika ikut pelatihan. Biar keren disebut End User Training SAKTI. Opooo kui sakti? Sakti mandraguna keleus. hahahahah. Bukan cuy. Eh, kita lagi serius ini looo. Belajar iniiii. Well, mumpung kelas hari pertama adalah kelas overview jadi sekalian tak kasih tau yaaa... SAKTI adalah singkatan dari Sistem Aplikasi Tingkat Instansi. Naaah, intinya ini adalah aplikasi super terbaru dari DJPBN (Ditjen Perbendaharaan Negara) demi bisa terlaksananya pembayaran belanja pemerintah. Buat apaaa?? yaaa demi terciptanya kelancaran pembangunan negara Indonesia tercinta duongs.
Oiya, eik lupa. ini pemateri hari pertama namanya Pak Lutfi. hehehe. okeeee cekidoot.

Pertama-tama, pada prinsipnya SAKTI itu apa sih istimewanya? Ada beberapa poin penting :
1. Integrasi berbagai aplikasi yang semula terpisah-pisah,
2. Cakupan fungsi mulai dari perencanaa, pelaksanaan, sampai pertanggungjawaban
3. Single database
4. Level satker, wilayah, dan eselon I Kementerian
5. Interface dengan SPAN di tiap level.
Walah opo meneh kui SPAN? Baiklah nanti akan saya jelaskan. Saya ikut materi dulu yaaa...

Ruang Lingkupnye : Modul Anggaran, Modul Komitmen, Modul Pembayaran, Modul Bendahara,Modul Aset Tetap, Modul Persediaan, Modul GL dan Pelaporan, daaaan at laast Modul Admin. :))
Ruang Lingkup Penggunanye: Satker BA 99907, BA 99908, K/L, termasuk Kemenkeu 015.
Sedangkan pengguna SPAN itu BA 99 BUN. Bingung euy. Yowes, kagek aku jelasin lagi.. Ni ikut materi duluuu.

Fitur2 SAKTI :
1. Integrasi database
2. single entry point (hanya 1x input)
3. multi user multi satker
4. level user (maker, checker, dan approver) => ini tidak boleh dirangkap loo yaaa, harus tertib!!
5. penerapan access control list (ACL) => modul aplikasi yang muncul, sesuai dengan nama user dan pwd yang terdaftar. cuma bisa buka itu ajaaa nggak bisa buka yg lain2. kalo user lain, bisaaa siiih dibikin untuk bisa buka modul lain, tapi hanya bisa melihat, nggak bisa mengakses emmm artinya ada menu2 yang dinonaktifkan.
6. Kompatibilitas dengan SPAN
7. basis akuntansi akrual secara transaksional => di Sakti, jurnal dalam GL terbentuk ketika transaksi sudah direkam dan disetujui. kalo sebelumnya kan jurnal terbentuk ketika sudah diposting.
8. open-closing period => setiap modul nanti harus ditutup dalam setiap periode. jadi kalau sudah ditutup yaa nggak bisa input transaksi lagii. jadi rekon nya yaa valid. setelah diclose, nggak bisa diubah soalnya.
9. locking transaksi (biar nggak bisa diubah-ubah lagiii)
10. 14 periode akuntansi (unaudited, audited)
11. adk interface (encrypted, hashed, pin) => dienkripsi agar tidak mudah terbaca sehingga terjaga kerahasiaannya, dihashed (untuk menjaga integritas data, misal mila karina yg bener, diubah jadi myla karyna), pin sebagai pengamanan (misal pin ppspm)
12. historical dan log data => yaaah ini sama ajalah ya kayak histori di chrome wkwkwkwkwwk.


Kamis, 31 Oktober 2024

Sudanta Gajendra Dhananjaya, Lima Tahun Pertama

Lima tahun yang indah
kami membersamai kehadiranmu di dunia
ternyata, lima tahun sudah
kau mewarnai lukisanku yang dulu hampir jemu

Sudanta Gajendra Dhananjaya
Seorang anak lelaki yang cerdas, gagah berani, dan memiliki kelembutan hati
Doa yang senantiasa tersampaikan
seiring namamu disebutkan dengan perasaan yang dalam

Memang itulah adanya dirimu, anakku
engkau cerdas dengan segala pertanyaanmu yang di luar dugaanku
engkau gagah dengan tubuhmu yang sehat dan kuat memelukku
lembut hatimu hingga kau tak mampu menahan deraian air mata saat perasaanmu luka
tak mengapa...
karena semoga papa dan mama selalu ada
sampai kau cukup mahir menjaga dirimu sendiri

Anakku, Danta
maafkanlah jika lelah kami sering membuat lupa
maafkanlah jika lelah kami sering membuat lupa
bahwa memilikimu adalah berkat
bahwa mencintaimu adalah anugerah
yang harus kami jaga dengan penuh suka cita

Tuhanku..
dengan segenap kerendahan hati kumohonkan
atas keselamatannya
atas kesehatannya
atas kebahagiaannya
lindungilah cahaya hatiku ini
agar terang benderangnya senantiasa mengisi kekosongan jiwa kami

Senin, 23 September 2019

Ilmu

Untuk engkau, wahai guruku..

Aku mencoba, Pak
Aku telah mencoba memadukan puing-puing ilmu
Pernah pula aku lelah
berpegang pada simpul-simpul kata yang buatku jengah
Hanya duduk termenung,
merenung, mendiamkan waktu
menciumi udara, lalu melepasnya

Aku mencoba, Pak
Aku telah mencoba menganyam helai demi helainya
Pernah pula aku ragu
atas benar tidaknya sejarah yang selama ini kita tahu
Hanya diam terpana,
masih mengais tanda-tanda keabsahannya

Aku mencoba, Pak
tapi aku lelah
tapi aku patah
dan kini aku pasrah

Sabtu, 22 Desember 2012

Janin

Untuk mencintanya, aku perlu mengerahkan seluruh daya yang kupunya. Harus kubakar semua energ yang ada. tu pun tak cukup. Untuk mencintainya, aku harus menangs dalam tawa, aku harus tertawa dalam tangis. Untuk mencintainya, bukan sekedar menorehkan tinta di atas kertas, bukan sekedar sekuntum bunga, atau sebatang coklat. Untuk mencintainya, aku harus persembahkan seluruh hatiku yang masih segar dan bergairah, yang belum lapuk layu.

Pernah sekali waktu aku mencoba mendekat. Selangkah lebih dekat ke jantungnya. Justru ia dua langkah makin dekat denganku. Aku tahu dan aku mengenalinya, meski belum sekali pun pernah kupandang wajahnya. Ia begitu lembut memperlakukan aku. Begitu bersahaja. Lewat getaran suaranya yang terkadang beriring isak luka, sungguh aku bisa merasakan kepedihannya, yang selalu ia pendam, ia kubur dalam tawa yang dibuat-buat.

Aku sering mendengar degup jantungnya yang cepat ketika ia berusaha memelukku, berusaha mengecupku, berusaha menggelitikku. Aku senang dengan semua ucapannya yang lebih seperti doa ketka ia mencoba berbincang denganku dari balik tabir ini. Atau ketika ia sedang menggumamkan sesuatu dengan lagu. Pernah suatu saat, dengan terbata, ia mendendangkan sebuah lagu dengan bahasa asing seperti in..

"Tak lela.. lela lela ledhun.. Cep meneng, aja pjeer nangis, anakku sing ayu rupane... Yen nangs ndak ilang ayune. Tak gadhang bsa urip mulya, dadia wanita utama, ngluhurke asmane wong tuwa..."

Belakangan baru kuketahui artinya, sebab ia berusaha menerjemahkannya untukku. Ia bilang begini..

"Sayang, jangan engkau menangis di sana, ya... Anakku yang cantik. Janganlah engkau menangs, nanti hilang kecantikanmu, hilang rerupamu yang ayu.. Kudoakan, Nak, selalu untukmu. Semoga engkau bisa hidup bahagia, segala berkecukupan. Jadilah engkau perempuan yang kuat, yang utama. Buatlah aku bangga meski aku tinggal nisan bernama. Jadilah engkau pahlawan bangsa..."

Seperti itu ucapnya. Tak henti-henti dengan cara dan gaya yang berbeda-beda. Dengan bahasa yang juga berupa-rupa. Ia teramat pandai, orang terpelajar agaknya. Ketika umurku empat bulan dulu, Tuhanku menyelipkan sebuah nama di antara banyak nama dalam buku Lauhul Mahfuzku. Kata Tuhan, orang ini adalah Ibu. Kelak kupanggil ia "Ibu".

Ahh... Terkadang ruangan ini terasa begitu sempit bagiku. Hingga sult rasanya meregangkan tubuh mungilku. Jika aku meluruskan tangan dan kakiku, pasti terbentur dinding yang lentur dan licin. Bahkan jika aku ingin mengubah posisi tidurku, kutendang-tendang pula dinding itu. Ketika itulah aku bisa mendengar ia tertawa geli, atau merintih lirih kesakitan. Namun, dasar bandelnya, makin hari makin gemar aku menendang-nendang. Apalagi sekarang ini. Ruangan ini kian tak cukup menampung tubuhku yang mulai gempal. Sebetulnya, di dalam sini sangat nyaman, hangat, dan aku tak pernah kelaparan, pun kehausan. Aku betah, tapi sudah tak muat lagi.

Kudengar suara Ibu merintih-rintih kesakitan. Bahkan sepertinya ia terisak, menangis. Aku sungguh tidak paham. Tak mengerti apa yang terjadi.

"Allahku.. Rabbku.. Tuhanku! Ampuni aku, Ya Rabb! Aku tak kuat! Sakiiiit....."

Begitu rintihnya. Ia berteriak memanggil nama Tuhan. Menyebutnya dengan nada memelas. Aku kebingungan. Sungguh. Kemudian kudengar banyak suara-suara lain. Aku bingung dan menendang-nendang. Kudorong tubuhku sendiri mengikuti gravitasi bumi. Aku makin panik ketika ruanganku terasa hampa, kosong, tak hangat lagi. Makin kuat kudorong tubuh ini, sekuat tenaga berusaha keluar dari rumahku yang makin terasa dingin.

"Ibu tenang, Bu.. Tarik napas, keluarkan. Lalu mengejan, ya Bu.. Anak Ibu juga berusaha. Ayo, Ibu harus kuat!"

Kudengar lamat-lamat suara seorang perempuan sambil aku masih mendorong-dorong tubuhku. Aku lelah sekali. Sungguh lelah. Mungkin ibu membantuku keluar. Makin lama makin terasa mudah mendorong, dan tetiba aku disilaukan oleh cahaya yang teramat terang. Aku tak mampu membuka mata.

Tubuhku leluasa menendang dan memukul kehampaan udara. Besar sekali tampaknya ruangan baru ini. Tapi aku takut. Teramat takut karena tak lagi dekat dengan jantung ibuku. Juga, ruangan ini terlalu dingin. Seketika kujeritkan tangisku yang paling bertenaga.

"Oaaaaaaa! Oaaaaaaa!"

Aku mau ibuku! Mana ibuku? Dingin sekali di sini. Anehnya, tak kudengar lagi tangisnya, atau tawanya. Aku merasa jauh. Atau sengaja dijauhkan! Aku tidak terima. Aku memberontak. Tapi tenagaku kian habis. Aku lemah tak berdaya. Lalu kurasakan tangan yang begitu lembut membopongku, mendekatkanku dengan suara jantung yang selama berbulan-bulan ini telah kuhafalkan iramanya. Dan aku berhenti menangis setelah mulutku dpenuhi air yang amat menyegarkan. Juga suara syahdu ini lagi..

"Cep meneng, aja pijer nangis... Anakku sing ayu rupane..."

Suara ibuku.


(specially dedicated to my beloved MOM)


 
18-12-2012/PBMN/I304/16:10 WIB

Selasa, 18 Desember 2012

Nyi Roro Langit Pribumi

Mengapa hanya aku, Tuhan?
yang terjatuh hari ini
membentang tabir dari kebahagiaan
mengurung diri bersama keterpurukan

Mengapa hanya aku, Tuhan?
yang mengangis hari ini
mengulas selaksa kisah menyedihkan
menitikkan macam-macam kekecewaan

Coba Engkau jelaskan, Tuhan!
hanya padaku hari ini
tentang skenario-Mu yang kian tak teramalkan
tentang rahasia hari-hari masa depan
Aku ingin tahu
adakah aku masih punya waktu
untuk sekedar menghapus prasangkaku
atas hidupku yang terlalu terhinakan
Coba, Tuhan..
Bawa aku dalam pelukMu..

Jumat, 14 September 2012

Untuk engkau, wahai guruku..

Aku mencoba, Pak
Aku telah mencoba memadukan puing-puing ilmu
Pernah pula aku lelah
berpegang pada simpul-simpul kata yang buatku jengah
Hanya duduk termenung,
merenung, mendiamkan waktu
menciumi udara, lalu melepasnya
Pun sedemikian adanya sikapku pada pengetahuan
terkadang

Bapak, dada ini sesak seringkali
Saat sejuta tanya menggunung dalam diri
Namun pula aku malu setiap kali
jemari ini menggelitik udara, memecah keheningan sepi
takut-takut ini pertanyaan bodoh.
Bukan!
Aku yang bodoh dalam bertanya

Tapi, Pak
Aku telah mencoba
dan kuharap, biarlah.
Masa ini memang harus datang
Ketika ini memang aku belum menang
Akan kubuktikan, Pak
dua puluh tahun mendatang, engkau pasti mengenaliku lagi
dan akan mengenangkan masa-masa ini

Bintaro, September 2012 (by: Izeda Lala Hapsari)